Resensi Film Jembatan Pensil

Hai guys..

Assalamualaikum hari ini aku mau menceritakan film “Jembatan Pensil” (2017)

Nah, jadi ada anak yang bernama Ondeng yang berumur 14 tahun, tetapi karena ia berkebutuhan khusus, maka ia masih duduk di bangku SD. Ondeng adalah anak yang baik hati, ia tidak hanya memikirkan diri sendiri karena ia suka menolong teman temannya melewati jembatan yang sudah rapuh. Ia rela tasnya jatuh ke sungai bawah jembatan hanya untuk menolong teman-temannya agar temannya bisa selamat. Bahkan meski sedang sakit ia tetap memperhatikan teman temannya.

Perjalanan mereka untuk sampai ke sekolah memerlukan waktu yang lama, tetapi mereka selalu sampai di sekolah lebih awal, keren kan.. Mengapa Judul film itu adalah “Jembatan Pensil” pasti kalian bingung ya? Karena saat diperintahkan untuk membuat kalimat tentang pensil oleh gurunya, Ondeng ingin membuat sebuah harapan dari pensil itu. Tidak seperti teman-temannya yang lain yang ingin menjadi dokter, guru dan lainnya, Ondeng ingin membuat jembatan agar teman-temannya selamat untuk melewati jembatan yang lamanya rapuh itu setiap pergi ke sekolah.

Menurutku film itu tentang perjuangan seorang anak piatu yang tinggal dengan kakaknya dan ayahnya, tetapi tak lama kemudian ayahnya meninggal dan meninggalkan ia dan kakaknya. Hikmah yang bisa kita petik adalah persahabatan Ondeng dengan kawan-kawannya, tentang pendidikan dan perjuangan menuntut ilmu. Lokasi syuting film di Pulau Muna yang sangat indah, yang ada di Sulawesi Tenggara. Kalau kalian masih penasaran sama Film ini, tonton saja yaa..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *